Tuesday, August 19, 2014

Landorundun, Cerita Rakyat Tana Toraja, Sulawesi Selatan (bagian 2)

Berikut ini merupakan cerita lanjutan dari bagian 1, yang ceritanya dapat kita simak melalui link ini.

        Landorandun merasa tersinggung mendengar sindiran Bendurana, lalu ia berkata:

                Siapa yang mengambil buahmu
                Siapa yang memakan manggamu
                Beri tahu si anak gembala
                Bersama anak penjaga kerbau
                        Dialah yang menjaga manggamu
                        Memakan buah kesayanganmu
                        Bersama semua tanam-tanamanmu.

        Setelah Bendurana mendengar jawaban Landorundun, maka ia memanggil semua anak gembala yang ada di sekitar tempat itu, dan menanya satu per satu. Anak-anak gembala itu menjawab, "Kami tidak pernah mengambil apalagi memakan mangga Bendurana." Ada seorang di antara mereka berkata:

                Landorundun mengambilnya
                Memakan buah mangga itu
                Bersama tanam-tanaman

        Mendengar kata-kata anak gembala itu, Landorundun lalu mengaku dan berkata, "Akulah sebenarnya yang mengambil buah manggamu dan terserah kepadamu, hukuman apa yang harus kujalani." Pada saat itu Bendurana memutuskan untuk menikah dengan Landorundun, dan keputusan itu diterima oleh Landorundun.

        Ketika Bendurana bersiap untuk berangkat membawa Landorandun, ia mencari akal supaya mertuanya (Lambe' Susu) tidak ikut berangkat bersama mereka. la menyuruh mertuanya pergi mengambil air di tebing gunung dan memberikan perian yang sudah dilubangi pantatnya untuk tempat air itu. Karena pantat perian itu bocor, air yang dimasukkan tidak kunjung penuh. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Bendurana membawa Landorundun turun ke perahu lalu berangkat. Ketika Lambe'Susu merasa bahwa perahu Bendurana sudah berangkat, ia pergi ke suatu tempat yang bernama Mata Bongi, untuk meiihat keberangkatan anaknya. Akan tetapi dari tempat itu Lambe' Susu tidak dapat melihatnya karena suasana gelap menutupi daerah sekelilingnya. Tempat Lambe' Susu memandang keberangkatan anaknya itu, sampai saat ini masih ada bekasnya, berupa tempat duduk dari batu.

Thursday, June 13, 2013

Landorundun, Cerita Rakyat Tana Toraja, Sulawesi Selatan (bagian 1)

Pembaca mungkin sudah mengenal Tana Toraja (TaTor). Daerah Toraja terkenal sebagai daerah tujuan pariwisata di Sulawesi Selatan. Banyak wisatawan dari mancanegara datang ke Tana Toraja untuk menikmati keindahan alam dan keunikan budayanya. Salah satu unsur budaya yang paling penting dalam suatu masyarakat adalah karya sastra. Landorundun adalah salah satu cerita rakyat dari daerah Tana Toraja. Berikut cerita selengkapnya. Selamat membaca...

         Landorundun adalah seorang gadis cantik, molek, dan panjang rambutnya. Ayahnya bernama Solokang dari Rongkong dan ibunya bernama Lambe' Susu Sesean. Pada suatu hari, Landorundun pergi mandi ke sungai. Sehabis mandi ia lalu bersisir dan rambutnya tercabut sehelai. Rambut itu lalu digulungnya pada sebuah sisir yang terbuat dari emas. Gulungan rambut ini diletakkan di atas batu. Tiba-tiba angin puting beliung datang meniupnya dan jatuh ke air lalu hanyut ke muara sungai dan sampai ke tengah laut. Ketika benda itu berada di tengah laut kelihatan berkilau-kilauan karena terkena cahaya matahari. Benda itu dilihat oleh Bendurana, lalu ia menyuruh anak buahnya pergi mengambilnya. Orang yang disuruh mengambil benda itu tidak ada satu pun yang berhasil karena selalu kembali dalam keadaan cacat. Orang pertama pergi mengambilnya dan kembali dalam keadaan lumpuh. Orang kedua hilang kakinya sebelah. Orang ketiga kembali dalam keadaan bungkuk. Orang yang keempat hilang telinganya dan yang terakhir kembali dalam keadaan buta. Ketika Bendurana menyaksikan kejadian ini, ia sendiri yang langsung pergi mengambil benda itu di tengah laut, dan ia berhasil mengambilnya. Kaki dan kukunya pun tak basah kena air. Benda itu ternyata sisir emas yang dibebat dengan rambut yang sangat panjang. Bendurana sangat heran melihat kejadian itu dan berkatalah dalamm hatinya. "Darimana gerangan asalnya rambut ini." Ia memikirkan kejadian ini sambil menengadah ke langit. Tiba-tiba datanglah serombongan burung terbang di udara dan seekor di antaranya berkata:
                 Saya melihat dengan pasti
                 Di sana ada hulu sungai
                 Sumber asalnya air
                 Gumpalan timbunan busa air
         Setelah burung layang-layang berkata demikian, kawanan burung itu terbang terus mengikuti aliran sungai mulai dari muara sampai Tana Toraja dan tiba di daerah Malangngo', kecamatan Rantepao. Kemana arah burung layang-layang itu terbang, selalu diikuti pula oleh Bendurana. Ketika tiba di daerah Malangngo' Bendurana belok ke persimpangan (pertemuan sungai) arah ke sungai Bulo (kecamatan Rantepao) karena tersesat, burung mengetahui kejadian itu lalu berkata: